Selamat Datang

Selamat Membaca dan Mohon Berikan Komentar Anda!

Jumat, 22 April 2011

“Bangsaku dan Negeriku"


Ketika ada orang yang bertanya: “Mata pelajaran apa yang paling berkaitan dengan bulan yang sedang dijalani umat islam sekarang (Ramadhan)?”, jawabannya adalah Pendidikan Agama Islam (PAI). Jawaban tersebut tentunya tidak perlu diperdebatkan lagi, karena subtansi PAI adalah siar ajaran agama islam itu sendiri, termasuk didalamnya mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan Ramadhan dan segala ritualnya. Kemudian jika ada yang bertanya: “Mata pelajaran apa yang paling relevan dengan hari kemerdekaan negara republik tercinta (Indonesia)?”, jawabannya adalah Pendidikan Sejarah.
Akan tetapi, apabila ada pertanyaan ketiga yang menggabungkan antara Ramadhan dan Hari kemerdekaan dengan pertanyaan: “Mata pelajaran apa yang relevan dengan keduanya, yaitu mata pelajaran yang memiliki korelasi dengan Ramadhan dan Hari Kemerdekaan yang jatuh bertepatan di bulan Agustus ini?”, jawabannya mungkin akan beranekaragam tidak homogen seperti jawaban dua pertanyaan sebelumnya,  sesuai dengan perspektif dan dasar atau landasan masing-masing. Dengan tetap menghargai plularisme jawaban dari pertanyaan itu, mata pelajaran yang menempati urutan pertama dalam hirarki keterkaitan antara Ramadhan dan Hari Kemerdekaan adalah pendidikan kewarganegaraan (PKn). Korelasinya bisa dilihat dari sasaran atau tujuan yang ingin dicapai oleh Ramadhan, peringatan Hari Kemerdekaan dan mata pelajaran PKn itu sendiri.
 Pertama, Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan istimewa, bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Di bulan ini pahala amal ibadah dilipat gandakan, pintu surga terbuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat, rizki dilapangkan dan masih banyak lagi keistimewaan lainnya. Selain keitimewaan yang dibawanya, Ramadhan juga sarat dengan pelatihan dan pembelajaran terhadap umat yang melaksanakannya. Adapun konsep-konsep kebaikan yang dilatih atau dibelajarkan Agama Islam di bulan Ramadhan diantaranya adalah: kesabaran, kepedulian, kedisiplinan, dan keikhlasan. Tujuan dari pelatihan atau pembelajaran itu adalah untuk membentuk insan yang taat, yaitu insan yang menuruti segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya sesuai dengan tuntunan Al-quran dan Hadits atau yang lazim dikenal dengan Insan Mutaqin.  
Kedua, Hari kemerdekaan. Hari kemerdekaan atau hari proklamasi yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, biasanya diisi dengan berbagai acara dan perlombaan. Namun, hal itu akan sedikit berbeda di tahun ini karena hari kemerdekaan bertepatan dengan puasa Ramadhan. Bagaimanapun hari kemerdekaan itu diisi, esensinya tetap sama, yaitu mengingatkan kepada kita bahwa kebebasan yang kita nikmati di negeri ini tidak diperoleh dengan mudah. Untuk menegakan kemerdekaan bangsa dan negara ini agar punya martabat dan sejajar dengan negara lain, nenek moyang kita (para pahlawan bangsa) mengorbankan harta-benda, jiwa raga dan segala-galanya sehingga harus mengalami penderitaan dalam jangka waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, tanggal 17 Agustus itu harus dijadikan momentum bangsa untuk instrospeksi diri terutama memupuk rasa patriotisme dan rasa nasionalisme agar perjalanan bangsa dan negara ini ke depan bisa jauh lebih baik.
Ketiga, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Asumsi PKn sebagai mata pelajaran yang paling berkorelasi dengan Ramadhan dan Hari Proklamasi didasarkan pada realita bahwa PKn secara pragmatik-prosedural berupaya memanusiakan (humanizing) dan membudayakan (civilizing) serta memberdayakan (enpowering) manusia/anak didik dalam rangka pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosial budaya, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai salah satu mata pelajaran bidang sosial dan kenegaraan, PKn mempunyai fungsi yang sangat essensial dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang memiliki keterampilan hidup bagi diri, agama, masyarakat, bangsa dan negara. Isi PKn diarahkan untuk menumbuhkan kompetensi kewarganegaran, yaitu pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skill), dan watak kepribadian kewarganegaraan (civic disposition). Ketiga keterampilan kewarganegaraan tersebut diperlukan agar tercipta partisipasi yang bermutu dan bertanggungjawab dari warga negara dalam kehidupan politik dan masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) berkenaan dengan subtansi atau informasi yang harus diketahui oleh warga negara, seperti pengetahuan tentang sistem politik, pemerintahan, konstitusi, undang-undang, hak dan kewajiban sebagai warga negara, dan sebagainya. Sementara itu, keterampilan kewarganegaraan (civic skill) berkaitan dengan kemampuan atau kecakapan intelektual, sosial dan psikomotorik. Keterampilan intelektual yang penting bagai terbentuknya warga negara yang berwawasan luas, kritis, meliputi keterampilan mengidentifikasi dan mendeskripsikan; menjelaskan dan menganalisis; mengevaluasi, menentukan dan mempertahankan (Wuryan dan Syaifullah, 2008: 78).
Sementara itu, watak dan kepribadian kewarganegaraan berkaitan dengan sifat-sifat pokok karakter pribadi maupun karakter publik warga negara yang mendukung terpeliharanya demokrasi konstitusional. Sifat karakter pribadi warga negara antara lain tanggungjawab moral, disiplin diri, dan hormat terhadap martabat setiap manusia. Sedangkan sifat karakter publik antara lain kepedulian sebagai warga negara, kesopanan, hormat terhadap aturan hukum (rule of law), berpikir kritis, dan kemauan untuk mendengar, bernegosiasi dan berkompromi (Sapriya, 2004: 13). Termasuk ke dalam watak dan kepribadian kewarganegaraan ini adalah kecerdasan moral (moral intelegence) yang hendak dibangun melalui Pendidikan Kewarganegaran, meliputi: empati, kesadaran, pengendalian diri, respek/kepedulian, kebaikan, toleran, dan kejujuran.
Ketiga komponen pembelajaran PKn itu akan membentuk siswa menjadi warga negara sekaligus sebagai umat beragama yang baik. Optimalisasi pendidikan kewarganegaraan yang berorientasi civic knowledge, civic skill, civic disposition dan moral intelegence akan membentuk karakter dan kompetensi: cerdas, disiplin, bertanggung jawab moral, hormat terhadap martabat setiap manusia, sopan, hormat terhadap aturan hukum dan norma (rule of law), kesadaran yang tinggi, pengendalian diri, respek/peduli, kebaikan, toleran, dan jujur pada diri siswa. Pendek kata dengan terinternalisasinya kompetensi seperti di atas terhadap diri anak didik maka semua siswa yang beragama Islam akan menjadi umat beragama yang baik di mata Allah SWT maupun di mata  sesama, yaitu Insan mutaqin sebagaimana sasaran yang ingin dicapai oleh bulan Ramadhan yang sedang dijalani saat ini. Selain itu, kompetensi di atas akan menjadikan mereka (termasuk siswa non muslim) sebagai warga negara yang baik (good citizen) yaitu warga negara yang memiliki keutamaan (exellence) atau kebajikan (Virtue) yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air dan memiliki sikap rela berkorban demi bangsa dan negara dengan memberikan partisipasi bermutu dan bertanggungjawab dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Penulis adalah Alumni Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang lulus dengan predikat Cum Laude dan pernah menjadi jura lomba karya tulis ilmiah mahasiswa (LKTM). Sekarang penulis menjadi salah satu staf pengajar (Mata Pelajaran PKn) di SMK Pariwisata PGRI Majalengka.
Berikut ini identitas lebih lanjut tentang penulis :
Nama              : Yayan S.Pd
Alamat           : Jl Kiara Agung No. 57 RT 08/ RW 04, Desa Cibunut
                        Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar